(#) English version: WILL modern science cure the world? Do the Bible/life guide prophecies of Isaiah and Revelation point to a time when man himself will bring about a world without sickness? In view of the many accomplishments in health care, some feel that this is not a far-fetched notion.
(*) Bahasa: Akankah sains modern menyembuhkan semua penyakit? Apakah nubuat/ramalan, Alkitab/buku panduan kehidupan dalam buku Yesaya dan Wahyu/Penyingkapan, menunjuk kesuatu masa ketika manusia sendiri akan mewujudkan dunia yang bebas penyakit? Mengingat banyaknya pencapaian dalam bidang perawawatan kesehatan, beberapa orang merasa bahwa ini bukanlah gagasan mustahil.
(#) Governments and private benefactors are now working together with the United Nations in an unprecedented campaign against disease. One concerted effort focuses on the immunization of children in developing countries. According to the United Nations Children’s Fund, if countries achieve their goals, “by 2015, more than 70 million children who live in the world’s poorest countries will receive each year life-saving vaccines against the following diseases: tuberculosis, diphtheria, tetanus, pertussis, measles, rubella, yellow fever, haemophilus influenzae type B, hepatitis B, polio, rotavirus, pneumococcus, meningococcus, and Japanese encephalitis.” Measures are also being taken to provide basic health necessities, such as adequate access to clean water, better nutrition, and hygiene education.
(*) Pemerintah dan penyumbang dana saat ini bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam suatu kampanye tergencar untuk memberantas penyakit. Sebuah upaya terpadu di khususkan untuk mengimunisasi anak-anak di negara-negara berkembang. Menurut dana anak-anak internasional PBB, jika negara-negara bisa mencapai tujuan mereka, "pada tahun 2015, lebih dari 70 juta anak yang tinggal di negara-negara termiskin di dunia akan menerima setiap tahunnya vaksin penyelamat Kehidupan melawan penyakit berikut: tuberkulosis, difteria, tetanus, pertusis, campak, rubela, demam kuning, influenza hemofilus tipe B, hepatitis B, polio, rotavirus, pneumokokus, meningokokus, dan ensefalitis Jepang". Berbagai upaya juga dilakukan untuk menyediakan kebutuhan dasar kesehatan, misalnya kemudahan memperoleh air bersih, gizi yang lebih baik, pendidikan tentang higiene.
(#) Scientists, however, aspire to provide much more than just the basics in health care. Cutting-edge technology is revolutionizing the medical field. It has been said that about every eight years, scientists double their medical knowledge. The following is just a sample of some of the latest technological achievements and goals in the fight against disease.
(*) Tetapi, para ilmuwan berharap bisa menyediakan lebih dari sekadar hal-hal mendasar dalam perawatan kesehatan. Teknologi modern sedang membuat perubahan besar-besaran dalam bidang medis. Konon, setiap kira-kira depalan tahun, pengetahuan medis para ilmuwan bertambah dua kali lipat. Berikut hanyalah beberapa contoh darai pretasi dan tujuan teknologi mutakhir dalam upaya memerangi penyakit.
(#) X-ray imaging For more than 30 years, doctors and hospitals have been using what is known as the CT scan. The acronym CT stands for computed tomography. CT scanners produce three-dimensional X-ray images of the inside of our bodies. These images are helpful in diagnosing disease and examining internal abnormalities.
While there is some controversy over the dangers associated with radiation exposure, medical experts are optimistic about the future benefits of this advancing technology. Michael Vannier, a professor of radiology at the University of Chicago Hospital, says: “In just the past few years, the progress is enough to make your head spin.”
CT scanners are now faster, more accurate, and less costly. The speed of the newest scanning methods is an important advantage. This is especially true when scanning the heart. Because the heart is constantly beating, many X-ray images of it used to come out blurry, making them difficult to evaluate accurately. As New Scientist magazine explains, new scanners take “just a third of a second to rotate around the body, faster than a single heart beat,” thus creating sharper pictures.
With the help of the latest scanners, doctors can not only capture the anatomical details of the inner body but also examine the biochemical activity of specific areas. This application may make it possible to detect the presence of cancer in its early stages.
Gambar-gambar tubuh manusia yang lebih
jelas dan akurat bisa membantu dokter
mendeteksi penyakit pada tahap dini
Siemens AG
*) Gambar sinar-X Selama lebih dari 30 tahun, dokter dan rumah sakit telah menggunakan apa yang di kenal sebagai CT Scan. CT adalah singkatan dari Computed tomography. Alat-alat CT Scan menghasilkan gambar sinar-X tiga dimensi dari bagian dalam tubuh kita. Gambar ini berguna untuk mendiagnosis penyakit dan memeriksa kelainan di bagian dalam tubuh.
Meskipun ada sedikit kontroversi seputar bahaya yang berkaitan dengan radiasi, para pakar medis optimis akan manfaat teknologi muktahir ini. Michael Vannier, seorang dosen radiology di Universitas Chicago Hospital, mengatakan, "Dalam beberapa tahun belakangan ini saja, kemajuannya begitu pesat hingga nyaris sulit dipercaya."
Alat-alat CT Scan sekarang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih murah. Kecepatan metode pemindaian terbaru ini merupakan satu keuntungan penting. Hali ini khususnya bermanfaat pada saat memindai jantung. Karena jantung terus berdetak, banyak gambar sinar-X yang dihasilkan biasanya tidak jelas, sehingga sulit dievaluasi secara akurat. Sebagaimana dijelaskan oleh majalah New Scientist, alat pemindai yang baru hanya membutuhkan waktu "sepertiga detik untuk berputar mengelilingi tubuh, lebih cepat daripada satu kali detak jantung", sehingga menghasilkan gambar yang lebih tajam.
Berkat alat-alat pemindai mutakhir itu, para dokter tidak saja dapat melihat detail-detail anatomi di dalam tubuh, tetapi bisa juga memeriksa kegiatan biokimia di bagian-bagian tertentu. Penggunaan alat ini memungkinkan dokter mendeteksi keberadaan kanker pada tahap dini.
(#) Robotic surgery Sophisticated robots no longer remain in the realm of science fiction—at least in the medical field. Already, thousands of surgeries are taking place with the help of robots. In some cases the surgeons operate with the use of a remote-control device that allows them to manipulate several robotic arms. These arms are equipped with scalpels, scissors, cameras, cauteries, and other surgical instruments. The technology allows surgeons to perform extremely complicated operations with incredible precision. “Surgeons who use the system have found that patients have less blood loss and pain, lower risk of complications, shorter hospital stays and quicker recovery times than those who have open surgery,” reports Newsweek magazine.
Robotic surgery Robots equipped with
surgical instruments help doctors perform
extremely complicated operations with
incredible precision

copy 2006 Intuitive Surgical, Inc
(#) Nanomedicine Nanomedicine is the application of nanotechnology to the medical field. In turn, nanotechnology is the science of manipulating and creating microscopic objects. The unit of measure used in this technology is called the nanometer, which is one billionth of a meter.*
To put such a measurement in perspective, the page (Awake! magazine paper) you are reading now is about 100,000 nanometers thick, and a human hair about 80,000. A red blood cell is about 2,500 nanometers in diameter. A bacterium is about 1,000 nanometers long, and a virus about 100 nanometers. Your DNA measures about 2.5 nanometers in diameter.
Proponents of this technology believe that in the near future, scientists will be able to build tiny devices designed to perform medical procedures inside the human body. Often referred to as nanomachines, these little robots will carry microscopic computers programmed with very specific instructions. Amazingly, these fairly complex machines will be built with components no bigger than 100 nanometers. That is 25 times smaller than the diameter of a red blood cell!
Because they are so small, it is hoped that nanodevices will someday be able to travel through tiny capillaries and deliver oxygen to anemic tissues, remove obstructions from blood vessels and plaque from brain cells, and even hunt down and destroy viruses, bacteria, and other infectious agents. Nanomachines may also be used to deliver drugs directly to specifically targeted cells.
Scientists predict that cancer detection will improve dramatically with the aid of nanomedicine. Dr. Samuel Wickline, a professor of medicine, physics, and biomedical engineering, said: “The possibilities are enormous for finding very small cancers far earlier than ever before and treating them with powerful drugs at the tumor site alone, while at the same time reducing any harmful side effects.”
Although this may sound like futuristic fantasy, nanomedicine is very real in the minds of some scientists. Leading researchers in this field expect that within the next decade, nanotechnology will be in use in repairing and rearranging the molecular structure of living cells. One proponent claims: “Nanomedicine will eliminate virtually all common diseases of the 20th century, virtually all medical pain and suffering, and allow the extension of human capabilities.” Even now some scientists are reporting good success in the use of nanomedicine on laboratory animals.
Artist: Vik Olliver (vik@diamondage.co.nzi)/
Designer:Robert Freitas

Pengobatan-nano mesin-mesin mikroskopis
buatan manusia memungkinkan dokter mengo-
bati penyakit pada tahap sel.
Foto ini adalah gambar karya seorang seniman
tentang mesin nano yg meniru fungsi sel darah
(*) Pengobatan Nano Teknologi-nano kini diaplikasikan di dunia medis. Teknologi-nano sendiri adalah ilmu yang memanfatkan dan menciptakan benda-benda mikroskopis. Satuan ukuran yang digunakan dalam teknologi ini disebut nanometer, yang artinya sepersemiliar meter*
Untuk membayangkan betapa kecilnya ukuran itu, halaman (kertas majalah awake!) yang sedang anda baca tebalnya sekitar 100.000 nanometer, dan sehelai rambut manusia tebalnya sekitar 80.000 nanometer. Sebuah sel darah merah berdiameter kira-kira 2.500 nanometer. Panjang bakteri kira-kira 1.000 nanometer, dan virus sekitar 100 nanometer. DNA Anda kira-kira berdiameter 2,5 nanometer.
Para pendukung teknologi ini yakin bahwa dalam waktu dekat, par ilmuwan akan berhasil merancang alat-alat supermini untuk melakukan prosedur medis di dalam tubuh manusia. Robot-robot kecil ini, yang sering disebut-nano, akan dipasangi komputer mikroskopis yang diprogram untuk menjalankan perintah yang sangat spesifik. Yang luar biasa, mesin yang cukup rumit ini akan dibuat dengan komponen yang besarnya tidak lebih dari 100 nanometer. Itu artinya 25 kali lebih kecil daripada diameter sebuah sel darah merah!
Karena ukurannya yang teramat kecil, alat-nano itu di harapkan kelak bisa melintasi pembuluh kapiler yang kecil dan mengantarkan ke jaringan yang anemik, membersihkan kotoran dari pembuluh darah dan plak dari sel otak, bahkan memburu serta menghancurkan virus, bakteri, dan agen penular lainnya. Mesin-nano juga dapat digunakan untuk mengantarkan obat langsung ke sel-sel yang spesifik.
Para ilmuwan meramalkan bahwa kanker akan jauh lebih cepat terdeteksi dengan bantuan pengobatan-nano. Dr. Samuel Wicline, seorang profesor dalam bidang kedokteran, fisika, dan rekayasa biomedis, mengatakan, "Kini, ada kemungkinan yang sangat besar untuk menemukan kanker yang sangat kecil jauh lebih awal daripada sebelumnya, mengobatinya dengan obat yang ampuh di lokasi tumor itu saja, dan sekaligus mengurangi efek samping apa pun yang membahayakan."
Meskipun hal ini kedengarnnya seperi khayalan futuristik, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa pengobatan-nano sangat nyata. Para peneliti terkemuka di bidang ini berharap bahwa dalam sepuluh tahun mendatang, teknologi nano akan digunakan untuk memperbaiki dan menyusun kembali struktur molekul sel-sel hidup. Seorang pendukungnya menyatakan, "Pengobatan-nano akan melenyapkan hampir semua penyakit umum abad ke-20, hampir semua rasa sakit dan penderitaan, dan meningkatkan banyak kesanggupan manusia." Bahkan sekarang pun beberapa ilmuwan telah melaporkan keberhasilan penggunaan pengobatan-nano pada binatang di laboraturium.
Genomik, dengan mempelajari strukur gen seseorang,
para ilmuwan berharap dapat mendeteksi dan meng-
obati penyakit bahkan sebelum pasien mengalami ge-
jala apa pun
Chromosmes: photo reseachers. Inc
(#) Genomics The study of gene structure is known as genomics. Every cell in the human body is packed with many components that are vital to life. One of these components is the gene. Each of us has about 35,000 genes that determine hair color and texture, skin and eye color, height, and other features of our individual physical appearance. Our genes also play an important role in determining the quality of our internal organs.
When genes are damaged, they can have an impact on our health. In fact, some researchers believe that all diseases arise from genetic malfunction. Some defective genes are inherited from our parents. Others are damaged by exposure to harmful elements in our environment.
Scientists hope that they will soon be able to identify the specific genes that predispose us to disease. This can allow doctors to understand, for instance, why certain individuals are more prone to cancers than others or why a type of cancer is more aggressive in some people than in others. Genomics may also reveal why a drug proves effective for some patients while not for others.
Such specific genetic information may give birth to what is being called personalized medicine. How might you benefit from this technology? The concept of personalized medicine suggests that medical care can be tailored to match your unique genetic profile. For example, if a study of your genes were to reveal that you are predisposed to develop a certain disease, doctors could detect such a disease long before any symptoms appeared. Proponents claim that in instances where the disease is not yet present, the right treatment, diet, and changes in behavior might even prevent the disease altogether.
Your genes may also alert doctors to the likelihood of your having an adverse reaction to medication. This information may give doctors the ability to prescribe the precise kind of medicine and the dosage needed in your particular case. The Boston Globe reports: “By 2020, the impact [of personalized medicine] is likely to be far more sweeping than any of us can envision today. New gene-based designer drugs will be developed for diabetes, heart disease, Alzheimer’s disease, schizophrenia, and many other conditions that take a high toll on our society.”
The above-mentioned technologies are but a sample of what science promises for the future. Medical knowledge continues to grow at an unprecedented rate. But scientists do not expect to eradicate sickness completely anytime soon. There are many hurdles that still seem insurmountable.
Additionally, people are eating less fresh fruits and vegetables and more sugar, salt, and saturated fat. This together with a decrease in physical activity and other unhealthy habits has resulted in more cardiovascular diseases. Tobacco smoking is on the increase, causing serious health problems and death to millions globally. Every year some 20 million people sustain serious injuries or die as a result of automobile accidents. War and other forms of violence kill and maim countless others. Millions suffer ill health as a result of alcohol or drug abuse.
The fact is that regardless of the cause, and notwithstanding all the advancements in medical technology, some diseases continue to take a heavy toll. According to the World Health Organization (WHO), ‘more than 150 million people suffer from depression at any point in time, about 25 million from schizophrenia, and 38 million from epilepsy.’ HIV/AIDS, diarrheal diseases, malaria, measles, pneumonia, and tuberculosis infect millions, killing countless children and young adults.
There are other seemingly insurmountable hurdles standing in the way of disease eradication. Poverty and bad government are two big obstacles. In a recent report, WHO stated that millions who die of infectious diseases could be saved were it not for government failure and lack of funding.
Will scientific knowledge and the dramatic improvements in medical technology help overcome these hurdles? Will we soon see a world without sickness? Granted, the factors outlined above provide no clear answer. The Bible, however, sheds light on this question. The following article will discuss what the life guide/The Bible says about the prospect of a future time when sickness will be no more.
(*) GENOMIK Penelitian tentang struktur gen dikenal sebagai Gonemik. Setiap sel dalam tubuh manusia sarat dengan banyak komponen yang vital untuk kehidupan. Salah satu kompenen ini adalah gen. Kita masing-masing memiliki sekitar 35.000 gen yang menentukan warna dan tekstur rambut, warna kulit dan mata, tinggi badan serta fitur-fitur lain penampilan fisik kita. Gen juga berperan penting untuk menentukan kualitas organ-organ dalam kita.
Jika gen rusak, kesehatan kita bisa terpengaruh. Malah ada peneliti yang berkeyakinan bahwa semua penyakit berasal dari kerusakan pada fungsi gen. Beberpa gen yang cacat diwariskan dari orang tua kita. Yang lain rusak karena terkena unsur-unsur berbahaya di lingkungan kita.
Para ilmuwan berharap bahwa tidak lama lagi mereka dapat mengenali gen-gen spesifik yang membuat kita rentan penyakit. Hal ini dapat membantu dokter memahami, misalnya, mengapa beberapa orang lebih rentan terkena kanker dibanding orang lain atau mengapa suatu jenis kanker lebih ganas dalam diri beberapa orang dibanding yang lain. Genomik juga dapat menyingkapkan mengapa sebuah obat manjur bagi beberapa pasien namun tidak bagi yang lain.
Keterangan spesifik tentang gen semacam itu bisa menghasilkan obat yang diracik khusus untuk kondisi seseorang. Bagaimana Anda dapat memperoleh manfaat dari teknologi ini? Konsep tentang obat racikan khusus itu menyiratkan bahwa perawatan medis bisa disesuaikan agar cocok dengan profil gen Anda yang unik. Sebagai contoh, jika gen Anda diselidiki dan ternyata Anda cenderung mengidap penyakit tertentu, dokter dapat mendeteksi penyakit itu jauh sebelum gejalanya muncul. Para mendukungnya menyatakan bahwa apabila penyakitnya belum muncul, penyakit itubahkan dapat dicegah sama sekali dengan perawatan yang benar, menu makanan, dan perubahan prilaku.
Gen anda juga dapat memberitahu dokter apakah Anda alergi terhadap suatu obat. Dengan keterangan ini, dokter bisa meresepkan jenis obat yang tepat dan dosis yang dibutuhkan khusus untuk kasus Anda.
Harian The Boston Globe, melaporkan, "Pada tahun 2020, [obat racikan khusus] kemungkinan besar pengaruhnya akan jauh lebih luas daripada yang dapat di bayangkan sekarang. Obat-obat baru yang di racik khusus untuk gen tertentu akan dikembangkan untuk diabetes, penyakit jantung, Alzheimer, skizofrenia, dan banyak gangguan kesehatan lainnya yang telah sangat menyengsarakan masyarakat kita."
Berbagai teknologi yang disebutkan diatashanyalah contoh dari apa yang dijanjikan sains untuk masa depan . Pengetahuan dalam bidang medisa terus berkembang lebih pesat daripada sebelumnya. Tatapi para ilmuwan tidak berharap dapat melenyapkan penyakit sama sekali dalam waktu dekat. Ada banyak kendala yang tampaknya masih tertanggulangi.
(*) Bahasa: Akankah sains modern menyembuhkan semua penyakit? Apakah nubuat/ramalan, Alkitab/buku panduan kehidupan dalam buku Yesaya dan Wahyu/Penyingkapan, menunjuk kesuatu masa ketika manusia sendiri akan mewujudkan dunia yang bebas penyakit? Mengingat banyaknya pencapaian dalam bidang perawawatan kesehatan, beberapa orang merasa bahwa ini bukanlah gagasan mustahil.
(#) Governments and private benefactors are now working together with the United Nations in an unprecedented campaign against disease. One concerted effort focuses on the immunization of children in developing countries. According to the United Nations Children’s Fund, if countries achieve their goals, “by 2015, more than 70 million children who live in the world’s poorest countries will receive each year life-saving vaccines against the following diseases: tuberculosis, diphtheria, tetanus, pertussis, measles, rubella, yellow fever, haemophilus influenzae type B, hepatitis B, polio, rotavirus, pneumococcus, meningococcus, and Japanese encephalitis.” Measures are also being taken to provide basic health necessities, such as adequate access to clean water, better nutrition, and hygiene education.
(*) Pemerintah dan penyumbang dana saat ini bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam suatu kampanye tergencar untuk memberantas penyakit. Sebuah upaya terpadu di khususkan untuk mengimunisasi anak-anak di negara-negara berkembang. Menurut dana anak-anak internasional PBB, jika negara-negara bisa mencapai tujuan mereka, "pada tahun 2015, lebih dari 70 juta anak yang tinggal di negara-negara termiskin di dunia akan menerima setiap tahunnya vaksin penyelamat Kehidupan melawan penyakit berikut: tuberkulosis, difteria, tetanus, pertusis, campak, rubela, demam kuning, influenza hemofilus tipe B, hepatitis B, polio, rotavirus, pneumokokus, meningokokus, dan ensefalitis Jepang". Berbagai upaya juga dilakukan untuk menyediakan kebutuhan dasar kesehatan, misalnya kemudahan memperoleh air bersih, gizi yang lebih baik, pendidikan tentang higiene.
(#) Scientists, however, aspire to provide much more than just the basics in health care. Cutting-edge technology is revolutionizing the medical field. It has been said that about every eight years, scientists double their medical knowledge. The following is just a sample of some of the latest technological achievements and goals in the fight against disease.
(*) Tetapi, para ilmuwan berharap bisa menyediakan lebih dari sekadar hal-hal mendasar dalam perawatan kesehatan. Teknologi modern sedang membuat perubahan besar-besaran dalam bidang medis. Konon, setiap kira-kira depalan tahun, pengetahuan medis para ilmuwan bertambah dua kali lipat. Berikut hanyalah beberapa contoh darai pretasi dan tujuan teknologi mutakhir dalam upaya memerangi penyakit.
(#) X-ray imaging For more than 30 years, doctors and hospitals have been using what is known as the CT scan. The acronym CT stands for computed tomography. CT scanners produce three-dimensional X-ray images of the inside of our bodies. These images are helpful in diagnosing disease and examining internal abnormalities.
While there is some controversy over the dangers associated with radiation exposure, medical experts are optimistic about the future benefits of this advancing technology. Michael Vannier, a professor of radiology at the University of Chicago Hospital, says: “In just the past few years, the progress is enough to make your head spin.”
CT scanners are now faster, more accurate, and less costly. The speed of the newest scanning methods is an important advantage. This is especially true when scanning the heart. Because the heart is constantly beating, many X-ray images of it used to come out blurry, making them difficult to evaluate accurately. As New Scientist magazine explains, new scanners take “just a third of a second to rotate around the body, faster than a single heart beat,” thus creating sharper pictures.
With the help of the latest scanners, doctors can not only capture the anatomical details of the inner body but also examine the biochemical activity of specific areas. This application may make it possible to detect the presence of cancer in its early stages.
Gambar-gambar tubuh manusia yang lebih
jelas dan akurat bisa membantu dokter
mendeteksi penyakit pada tahap dini
Siemens AG
*) Gambar sinar-X Selama lebih dari 30 tahun, dokter dan rumah sakit telah menggunakan apa yang di kenal sebagai CT Scan. CT adalah singkatan dari Computed tomography. Alat-alat CT Scan menghasilkan gambar sinar-X tiga dimensi dari bagian dalam tubuh kita. Gambar ini berguna untuk mendiagnosis penyakit dan memeriksa kelainan di bagian dalam tubuh. Meskipun ada sedikit kontroversi seputar bahaya yang berkaitan dengan radiasi, para pakar medis optimis akan manfaat teknologi muktahir ini. Michael Vannier, seorang dosen radiology di Universitas Chicago Hospital, mengatakan, "Dalam beberapa tahun belakangan ini saja, kemajuannya begitu pesat hingga nyaris sulit dipercaya."
Alat-alat CT Scan sekarang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih murah. Kecepatan metode pemindaian terbaru ini merupakan satu keuntungan penting. Hali ini khususnya bermanfaat pada saat memindai jantung. Karena jantung terus berdetak, banyak gambar sinar-X yang dihasilkan biasanya tidak jelas, sehingga sulit dievaluasi secara akurat. Sebagaimana dijelaskan oleh majalah New Scientist, alat pemindai yang baru hanya membutuhkan waktu "sepertiga detik untuk berputar mengelilingi tubuh, lebih cepat daripada satu kali detak jantung", sehingga menghasilkan gambar yang lebih tajam.
Berkat alat-alat pemindai mutakhir itu, para dokter tidak saja dapat melihat detail-detail anatomi di dalam tubuh, tetapi bisa juga memeriksa kegiatan biokimia di bagian-bagian tertentu. Penggunaan alat ini memungkinkan dokter mendeteksi keberadaan kanker pada tahap dini.
(#) Robotic surgery Sophisticated robots no longer remain in the realm of science fiction—at least in the medical field. Already, thousands of surgeries are taking place with the help of robots. In some cases the surgeons operate with the use of a remote-control device that allows them to manipulate several robotic arms. These arms are equipped with scalpels, scissors, cameras, cauteries, and other surgical instruments. The technology allows surgeons to perform extremely complicated operations with incredible precision. “Surgeons who use the system have found that patients have less blood loss and pain, lower risk of complications, shorter hospital stays and quicker recovery times than those who have open surgery,” reports Newsweek magazine.
Robotic surgery Robots equipped with
surgical instruments help doctors perform
extremely complicated operations with
incredible precision

copy 2006 Intuitive Surgical, Inc
(*) Pembedahan dengan robot
Robot canggih tidak lagi hanya ada di dalam fiksi ilmiah~setidaknya di dunia medis pun ada. Ribuan pembedahan sudah dilakukan dengan bantuan robot. Dalam beberapa kasus, ahli bedah mengoperasi pasien dengan menggunakan alat pengendali jarak jauh yang memungkinkan mereka menggerakan beberapa lengan robotis. Lengan-lengan ini dilengkapi pisau bedah, gunting, kamera, alat kauterisasi, dan instrumen bedah lainnya. Berkat teknologi ini, ahli bedah bisa melakukan operasi yang luar biasa rumit dengan sangat akurat. "Menurut ahli bedah yang menggunakan sistim ini, pasien mengalami rasa sakit dan kehilangan darah yang lebih sedikit, resiko komplikasi yang lebih kecil, masa rawat-inap yang lebih pendek, dan masa pemulihan yang lebih cepat daripada pasien yang menjalani pembedahan terbuka, " lapor majalah Newsweek.(#) Nanomedicine Nanomedicine is the application of nanotechnology to the medical field. In turn, nanotechnology is the science of manipulating and creating microscopic objects. The unit of measure used in this technology is called the nanometer, which is one billionth of a meter.*
To put such a measurement in perspective, the page (Awake! magazine paper) you are reading now is about 100,000 nanometers thick, and a human hair about 80,000. A red blood cell is about 2,500 nanometers in diameter. A bacterium is about 1,000 nanometers long, and a virus about 100 nanometers. Your DNA measures about 2.5 nanometers in diameter.
Proponents of this technology believe that in the near future, scientists will be able to build tiny devices designed to perform medical procedures inside the human body. Often referred to as nanomachines, these little robots will carry microscopic computers programmed with very specific instructions. Amazingly, these fairly complex machines will be built with components no bigger than 100 nanometers. That is 25 times smaller than the diameter of a red blood cell!
Because they are so small, it is hoped that nanodevices will someday be able to travel through tiny capillaries and deliver oxygen to anemic tissues, remove obstructions from blood vessels and plaque from brain cells, and even hunt down and destroy viruses, bacteria, and other infectious agents. Nanomachines may also be used to deliver drugs directly to specifically targeted cells.
Scientists predict that cancer detection will improve dramatically with the aid of nanomedicine. Dr. Samuel Wickline, a professor of medicine, physics, and biomedical engineering, said: “The possibilities are enormous for finding very small cancers far earlier than ever before and treating them with powerful drugs at the tumor site alone, while at the same time reducing any harmful side effects.”
Although this may sound like futuristic fantasy, nanomedicine is very real in the minds of some scientists. Leading researchers in this field expect that within the next decade, nanotechnology will be in use in repairing and rearranging the molecular structure of living cells. One proponent claims: “Nanomedicine will eliminate virtually all common diseases of the 20th century, virtually all medical pain and suffering, and allow the extension of human capabilities.” Even now some scientists are reporting good success in the use of nanomedicine on laboratory animals.
Artist: Vik Olliver (vik@diamondage.co.nzi)/
Designer:Robert Freitas

Pengobatan-nano mesin-mesin mikroskopis
buatan manusia memungkinkan dokter mengo-
bati penyakit pada tahap sel.
Foto ini adalah gambar karya seorang seniman
tentang mesin nano yg meniru fungsi sel darah
Untuk membayangkan betapa kecilnya ukuran itu, halaman (kertas majalah awake!) yang sedang anda baca tebalnya sekitar 100.000 nanometer, dan sehelai rambut manusia tebalnya sekitar 80.000 nanometer. Sebuah sel darah merah berdiameter kira-kira 2.500 nanometer. Panjang bakteri kira-kira 1.000 nanometer, dan virus sekitar 100 nanometer. DNA Anda kira-kira berdiameter 2,5 nanometer.
Para pendukung teknologi ini yakin bahwa dalam waktu dekat, par ilmuwan akan berhasil merancang alat-alat supermini untuk melakukan prosedur medis di dalam tubuh manusia. Robot-robot kecil ini, yang sering disebut-nano, akan dipasangi komputer mikroskopis yang diprogram untuk menjalankan perintah yang sangat spesifik. Yang luar biasa, mesin yang cukup rumit ini akan dibuat dengan komponen yang besarnya tidak lebih dari 100 nanometer. Itu artinya 25 kali lebih kecil daripada diameter sebuah sel darah merah!
Karena ukurannya yang teramat kecil, alat-nano itu di harapkan kelak bisa melintasi pembuluh kapiler yang kecil dan mengantarkan ke jaringan yang anemik, membersihkan kotoran dari pembuluh darah dan plak dari sel otak, bahkan memburu serta menghancurkan virus, bakteri, dan agen penular lainnya. Mesin-nano juga dapat digunakan untuk mengantarkan obat langsung ke sel-sel yang spesifik.
Para ilmuwan meramalkan bahwa kanker akan jauh lebih cepat terdeteksi dengan bantuan pengobatan-nano. Dr. Samuel Wicline, seorang profesor dalam bidang kedokteran, fisika, dan rekayasa biomedis, mengatakan, "Kini, ada kemungkinan yang sangat besar untuk menemukan kanker yang sangat kecil jauh lebih awal daripada sebelumnya, mengobatinya dengan obat yang ampuh di lokasi tumor itu saja, dan sekaligus mengurangi efek samping apa pun yang membahayakan."
Meskipun hal ini kedengarnnya seperi khayalan futuristik, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa pengobatan-nano sangat nyata. Para peneliti terkemuka di bidang ini berharap bahwa dalam sepuluh tahun mendatang, teknologi nano akan digunakan untuk memperbaiki dan menyusun kembali struktur molekul sel-sel hidup. Seorang pendukungnya menyatakan, "Pengobatan-nano akan melenyapkan hampir semua penyakit umum abad ke-20, hampir semua rasa sakit dan penderitaan, dan meningkatkan banyak kesanggupan manusia." Bahkan sekarang pun beberapa ilmuwan telah melaporkan keberhasilan penggunaan pengobatan-nano pada binatang di laboraturium.
Genomik, dengan mempelajari strukur gen seseorang,
para ilmuwan berharap dapat mendeteksi dan meng-
obati penyakit bahkan sebelum pasien mengalami ge-
jala apa pun
Chromosmes: photo reseachers. Inc
(#) Genomics The study of gene structure is known as genomics. Every cell in the human body is packed with many components that are vital to life. One of these components is the gene. Each of us has about 35,000 genes that determine hair color and texture, skin and eye color, height, and other features of our individual physical appearance. Our genes also play an important role in determining the quality of our internal organs.When genes are damaged, they can have an impact on our health. In fact, some researchers believe that all diseases arise from genetic malfunction. Some defective genes are inherited from our parents. Others are damaged by exposure to harmful elements in our environment.
Scientists hope that they will soon be able to identify the specific genes that predispose us to disease. This can allow doctors to understand, for instance, why certain individuals are more prone to cancers than others or why a type of cancer is more aggressive in some people than in others. Genomics may also reveal why a drug proves effective for some patients while not for others.
Such specific genetic information may give birth to what is being called personalized medicine. How might you benefit from this technology? The concept of personalized medicine suggests that medical care can be tailored to match your unique genetic profile. For example, if a study of your genes were to reveal that you are predisposed to develop a certain disease, doctors could detect such a disease long before any symptoms appeared. Proponents claim that in instances where the disease is not yet present, the right treatment, diet, and changes in behavior might even prevent the disease altogether.
Your genes may also alert doctors to the likelihood of your having an adverse reaction to medication. This information may give doctors the ability to prescribe the precise kind of medicine and the dosage needed in your particular case. The Boston Globe reports: “By 2020, the impact [of personalized medicine] is likely to be far more sweeping than any of us can envision today. New gene-based designer drugs will be developed for diabetes, heart disease, Alzheimer’s disease, schizophrenia, and many other conditions that take a high toll on our society.”
The above-mentioned technologies are but a sample of what science promises for the future. Medical knowledge continues to grow at an unprecedented rate. But scientists do not expect to eradicate sickness completely anytime soon. There are many hurdles that still seem insurmountable.
Seemingly Insurmountable Hurdles
Human behavior may slow down progress in the eradication of disease. For example, scientists believe that human-inflicted damage to certain ecosystems has resulted in new, dangerous diseases. In a Newsweek magazine interview, Mary Pearl, president of the Wildlife Trust, explained: “Since the mid-1970s, more than 30 new diseases have emerged, including AIDS, Ebola, Lyme disease and SARS. Most of these are believed to have moved from wildlife to human populations.”Additionally, people are eating less fresh fruits and vegetables and more sugar, salt, and saturated fat. This together with a decrease in physical activity and other unhealthy habits has resulted in more cardiovascular diseases. Tobacco smoking is on the increase, causing serious health problems and death to millions globally. Every year some 20 million people sustain serious injuries or die as a result of automobile accidents. War and other forms of violence kill and maim countless others. Millions suffer ill health as a result of alcohol or drug abuse.
The fact is that regardless of the cause, and notwithstanding all the advancements in medical technology, some diseases continue to take a heavy toll. According to the World Health Organization (WHO), ‘more than 150 million people suffer from depression at any point in time, about 25 million from schizophrenia, and 38 million from epilepsy.’ HIV/AIDS, diarrheal diseases, malaria, measles, pneumonia, and tuberculosis infect millions, killing countless children and young adults.
There are other seemingly insurmountable hurdles standing in the way of disease eradication. Poverty and bad government are two big obstacles. In a recent report, WHO stated that millions who die of infectious diseases could be saved were it not for government failure and lack of funding.
Will scientific knowledge and the dramatic improvements in medical technology help overcome these hurdles? Will we soon see a world without sickness? Granted, the factors outlined above provide no clear answer. The Bible, however, sheds light on this question. The following article will discuss what the life guide/The Bible says about the prospect of a future time when sickness will be no more.
(*) GENOMIK Penelitian tentang struktur gen dikenal sebagai Gonemik. Setiap sel dalam tubuh manusia sarat dengan banyak komponen yang vital untuk kehidupan. Salah satu kompenen ini adalah gen. Kita masing-masing memiliki sekitar 35.000 gen yang menentukan warna dan tekstur rambut, warna kulit dan mata, tinggi badan serta fitur-fitur lain penampilan fisik kita. Gen juga berperan penting untuk menentukan kualitas organ-organ dalam kita.
Jika gen rusak, kesehatan kita bisa terpengaruh. Malah ada peneliti yang berkeyakinan bahwa semua penyakit berasal dari kerusakan pada fungsi gen. Beberpa gen yang cacat diwariskan dari orang tua kita. Yang lain rusak karena terkena unsur-unsur berbahaya di lingkungan kita.
Para ilmuwan berharap bahwa tidak lama lagi mereka dapat mengenali gen-gen spesifik yang membuat kita rentan penyakit. Hal ini dapat membantu dokter memahami, misalnya, mengapa beberapa orang lebih rentan terkena kanker dibanding orang lain atau mengapa suatu jenis kanker lebih ganas dalam diri beberapa orang dibanding yang lain. Genomik juga dapat menyingkapkan mengapa sebuah obat manjur bagi beberapa pasien namun tidak bagi yang lain.
Keterangan spesifik tentang gen semacam itu bisa menghasilkan obat yang diracik khusus untuk kondisi seseorang. Bagaimana Anda dapat memperoleh manfaat dari teknologi ini? Konsep tentang obat racikan khusus itu menyiratkan bahwa perawatan medis bisa disesuaikan agar cocok dengan profil gen Anda yang unik. Sebagai contoh, jika gen Anda diselidiki dan ternyata Anda cenderung mengidap penyakit tertentu, dokter dapat mendeteksi penyakit itu jauh sebelum gejalanya muncul. Para mendukungnya menyatakan bahwa apabila penyakitnya belum muncul, penyakit itubahkan dapat dicegah sama sekali dengan perawatan yang benar, menu makanan, dan perubahan prilaku.
Gen anda juga dapat memberitahu dokter apakah Anda alergi terhadap suatu obat. Dengan keterangan ini, dokter bisa meresepkan jenis obat yang tepat dan dosis yang dibutuhkan khusus untuk kasus Anda.
Harian The Boston Globe, melaporkan, "Pada tahun 2020, [obat racikan khusus] kemungkinan besar pengaruhnya akan jauh lebih luas daripada yang dapat di bayangkan sekarang. Obat-obat baru yang di racik khusus untuk gen tertentu akan dikembangkan untuk diabetes, penyakit jantung, Alzheimer, skizofrenia, dan banyak gangguan kesehatan lainnya yang telah sangat menyengsarakan masyarakat kita."
Berbagai teknologi yang disebutkan diatashanyalah contoh dari apa yang dijanjikan sains untuk masa depan . Pengetahuan dalam bidang medisa terus berkembang lebih pesat daripada sebelumnya. Tatapi para ilmuwan tidak berharap dapat melenyapkan penyakit sama sekali dalam waktu dekat. Ada banyak kendala yang tampaknya masih tertanggulangi.
[Nyatanya ada] Kendala-Kendala yang Tampaknya Tak Tertanggulangi
Perilaku manusia dapat memperlambat kemajuan pemberantasan penyaki. Misalnya para ilmuwan yakin bahwa kerusakan pada ekosistem tertentu akibat ulah manusia telah memunculkan penyakit-penyakit baru yang berbahaya.
Dalam sebuah wawancara dengan majalah Newsweek, Mary Pearl, presiden yayasan Peduli Konservasi Alam, menjelaskan, "Sejak pertengahan tahun 1970-an, lebih dari 30 penyakit baru telah muncul, termasuk AIDS, Ebola, penyakit Lyme, SARS, kebanyakan diyakini berpindah dari satwa liar ke manusia."
Selain itu, orang-orang semakin kurang memakan buah dan sayuran segar namun semakin banyak mengkonsumsi gula, garam, dan lemak jenuh. Hal ini, yang ditambah berkurangnya kegiatan fisik beserta kebiasaan yang tidak sehat lainnya. Meningkatnya penyakit kardiovaskular. Semakin banyak orang merokok, sehingga menyebabkan problem kesehatan yang serius dan kematian kepada jutaan orang di seluruh dunia. Setiap tahun, sekitar 20 juta orang mengalami cedera serius atau tewas akibat kecelakaan mobil. Tak terhitung banyaknya orag yang terbunuh atau cacat akibat perang dan berbagai kekerasan lainnya.
Jutaan orang sakit-sakitan karena penyalahgunaan alkohol atau narkoba.
Faktanya adalah, tidak soal penyebabnya, dan terlepas dari semua kemajuan dalam bidang teknologi medis, beberapa penyakit terus mengakibatkan. Menurur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 'lebih dari 150 juta orang pernah mengalami dpresi, sekitar 25 juta menderita skizofrenia, dan 38 juta menderita epilepsi'. HIV/AIDS, penyakit diare, malaria, campak, pneumonia, dan tuberkulosis menjangkiti jutaan orang dan menewaskan tak terhitung banyaknya anak kecil dan orang muda.
Ada lagi kendala lain yang tampaknya tak tertanggulangi dan menghambat upaya pemberantas penyakit. Kemiskinan dan pemerintah yang korup adalah dua pemghalang besar. WHO baru-baru ini melaporkan bahwa jutaan orang yang mati akibat penyakit menular sebenarnya bisa di selamatkan kalau saja pemerintah tidak lalai dan dana tersedia.
Apakah pengetahuan ilmiah dan kemajuan dramatis dalam bidang teknologi medis dakan turut mengatasi kendala-kendala ini?
Apakah kita akan segera menikmati dunia yang bebas penyakit? Memang faktor-faktor yang diuraikan diatas tidak memberikan jawaban yang jelas [atas pertanyaan-pertanyaan ini]. Tetapi
buku panduan kehidupan/Alkitab, menyediakan jawaban [solusi permanent] untuk pertanyaan tersebut.
Artikel [yang terkait dimunculkan di "Solusi Permanen"] akan membahas apa yang buku panduan kehidupan katakan tentang prospek di masa depan kala penyakit tidak ada lagi. [namun periksalah ulasan tentang pengobatan alternatif di bawah ini sebagai upaya pengobatan ("Solusi Jangka Pendek)]

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Newsweek, Mary Pearl, presiden yayasan Peduli Konservasi Alam, menjelaskan, "Sejak pertengahan tahun 1970-an, lebih dari 30 penyakit baru telah muncul, termasuk AIDS, Ebola, penyakit Lyme, SARS, kebanyakan diyakini berpindah dari satwa liar ke manusia."
Selain itu, orang-orang semakin kurang memakan buah dan sayuran segar namun semakin banyak mengkonsumsi gula, garam, dan lemak jenuh. Hal ini, yang ditambah berkurangnya kegiatan fisik beserta kebiasaan yang tidak sehat lainnya. Meningkatnya penyakit kardiovaskular. Semakin banyak orang merokok, sehingga menyebabkan problem kesehatan yang serius dan kematian kepada jutaan orang di seluruh dunia. Setiap tahun, sekitar 20 juta orang mengalami cedera serius atau tewas akibat kecelakaan mobil. Tak terhitung banyaknya orag yang terbunuh atau cacat akibat perang dan berbagai kekerasan lainnya.
Jutaan orang sakit-sakitan karena penyalahgunaan alkohol atau narkoba.
Faktanya adalah, tidak soal penyebabnya, dan terlepas dari semua kemajuan dalam bidang teknologi medis, beberapa penyakit terus mengakibatkan. Menurur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 'lebih dari 150 juta orang pernah mengalami dpresi, sekitar 25 juta menderita skizofrenia, dan 38 juta menderita epilepsi'. HIV/AIDS, penyakit diare, malaria, campak, pneumonia, dan tuberkulosis menjangkiti jutaan orang dan menewaskan tak terhitung banyaknya anak kecil dan orang muda.
Ada lagi kendala lain yang tampaknya tak tertanggulangi dan menghambat upaya pemberantas penyakit. Kemiskinan dan pemerintah yang korup adalah dua pemghalang besar. WHO baru-baru ini melaporkan bahwa jutaan orang yang mati akibat penyakit menular sebenarnya bisa di selamatkan kalau saja pemerintah tidak lalai dan dana tersedia.
Apakah pengetahuan ilmiah dan kemajuan dramatis dalam bidang teknologi medis dakan turut mengatasi kendala-kendala ini?
Apakah kita akan segera menikmati dunia yang bebas penyakit? Memang faktor-faktor yang diuraikan diatas tidak memberikan jawaban yang jelas [atas pertanyaan-pertanyaan ini]. Tetapi
buku panduan kehidupan/Alkitab, menyediakan jawaban [solusi permanent] untuk pertanyaan tersebut.
Artikel [yang terkait dimunculkan di "Solusi Permanen"] akan membahas apa yang buku panduan kehidupan katakan tentang prospek di masa depan kala penyakit tidak ada lagi. [namun periksalah ulasan tentang pengobatan alternatif di bawah ini sebagai upaya pengobatan ("Solusi Jangka Pendek)]

Alternative Forms of Medicine on the Rise
Pengobatan Alternative Sedang Naik Daun
(*) Ada beraneka ragam metode pengobatan yang umumnya tidak diakui oleh para praktisi pengobatan konvensional. Ini biasanya dikenal sebagai pengobatan tradisional dan pengobatan alternatif.
Di negara-negara berkembang, sebagaian masyarakat mengandalkan pengobatan tradisional untuk kebutuhan kesehatan mereka. Di daerah-daerah miskin, banyak orang tidak punya cukup uang untuk membayar perawatan medis konvensional, sedangkan yang lain memang lebih menyukai metode tradisional.
Berbagai bentuk pengobatan alternatif juga menjamur di negara-negara kaya. Jenis yang paling populer antara lain ialah akupunktur, kiropraktik, homeopati, naturopati, dan jamu-jamuan. Beberapa diantaranya telah diselidiki secara ilmiah dan terbuktibermanfaat untuk gangguan kesehatan tertentu. Tetapi keefektifan metode-metode tertentu belum diuji secara memadai. Meningkatnya popolaritas berbagai jenis pengobatan alternatif telah menimbulkan beberapa
masalah mengenai aman-tidaknya pengobatan tersebut. Di banyak negara, terapi pengobatan demikian tidak diatur oleh undang-undang. Hal ini menciptakan lahan subur untuk upaya berbahaya mengobati diri sendiri, obat palsu dan tabib gadungan. Walaupun berniat baik, sahabat dan kerabat yang tidak cukup terlatih sering menjadikan dirinya praktisi medis. Ini semua bisa mengakibatkan reaksi yang merugikan dan bahaya kesehatan lainnya.
Di beberap anegara yang memiliki peraturan mengenai hal-hal ini, berbagai bentuk terapi alternatif semakin banyak diakui oleh kalangan medis dan dianjurkan oleh para dokter. Namun tampaknya tidak dapat dikatan bahwa metode-metode ini akan mewujudkan
(suatu dunia yang bebas penyakit~hanya ada keterangan tersebut di artikel-artikel: Sololusi Permanen)
(#) There are a wide variety of healing methods that are not generally accepted by practitioners of conventional medicine. These are generally known as traditional medicine and alternative medicine. In developing countries the majority of the population rely on traditional medicine for their health needs. In poor areas many cannot afford conventional medical treatments, while other people simply prefer traditional methods.
Alternative forms of medicine are also thriving in wealthy countries. Among the most popular types of alternative treatment are acupuncture, chiropractic, homeopathy, naturopathy, and herbal medicine. Some of these practices have been scientifically studied and proved beneficial for certain conditions. The effectiveness of certain methods, however, has not been adequately established. The increased popularity of alternative types of medicine has raised some safety issues. In many countries such healing therapies are not regulated. This provides an environment where harmful self-medication, counterfeit products, and quackery can thrive. Although being well-intentioned, friends and relatives lacking sufficient training often become self-appointed practitioners. All of this has resulted in adverse reactions and other health hazards.
In several countries where regulations are in place, alternative forms of therapies are gaining acceptance in the conventional medical community and are offered by medical doctors. Still, there seems to be no valid claim that these methods will ever bring about a world without sickness.
Alternative forms of medicine are also thriving in wealthy countries. Among the most popular types of alternative treatment are acupuncture, chiropractic, homeopathy, naturopathy, and herbal medicine. Some of these practices have been scientifically studied and proved beneficial for certain conditions. The effectiveness of certain methods, however, has not been adequately established. The increased popularity of alternative types of medicine has raised some safety issues. In many countries such healing therapies are not regulated. This provides an environment where harmful self-medication, counterfeit products, and quackery can thrive. Although being well-intentioned, friends and relatives lacking sufficient training often become self-appointed practitioners. All of this has resulted in adverse reactions and other health hazards.
In several countries where regulations are in place, alternative forms of therapies are gaining acceptance in the conventional medical community and are offered by medical doctors. Still, there seems to be no valid claim that these methods will ever bring about a world without sickness.
Pengobatan Alternative Sedang Naik Daun
(*) Ada beraneka ragam metode pengobatan yang umumnya tidak diakui oleh para praktisi pengobatan konvensional. Ini biasanya dikenal sebagai pengobatan tradisional dan pengobatan alternatif.
Di negara-negara berkembang, sebagaian masyarakat mengandalkan pengobatan tradisional untuk kebutuhan kesehatan mereka. Di daerah-daerah miskin, banyak orang tidak punya cukup uang untuk membayar perawatan medis konvensional, sedangkan yang lain memang lebih menyukai metode tradisional.
Berbagai bentuk pengobatan alternatif juga menjamur di negara-negara kaya. Jenis yang paling populer antara lain ialah akupunktur, kiropraktik, homeopati, naturopati, dan jamu-jamuan. Beberapa diantaranya telah diselidiki secara ilmiah dan terbuktibermanfaat untuk gangguan kesehatan tertentu. Tetapi keefektifan metode-metode tertentu belum diuji secara memadai. Meningkatnya popolaritas berbagai jenis pengobatan alternatif telah menimbulkan beberapa
masalah mengenai aman-tidaknya pengobatan tersebut. Di banyak negara, terapi pengobatan demikian tidak diatur oleh undang-undang. Hal ini menciptakan lahan subur untuk upaya berbahaya mengobati diri sendiri, obat palsu dan tabib gadungan. Walaupun berniat baik, sahabat dan kerabat yang tidak cukup terlatih sering menjadikan dirinya praktisi medis. Ini semua bisa mengakibatkan reaksi yang merugikan dan bahaya kesehatan lainnya.
Di beberap anegara yang memiliki peraturan mengenai hal-hal ini, berbagai bentuk terapi alternatif semakin banyak diakui oleh kalangan medis dan dianjurkan oleh para dokter. Namun tampaknya tidak dapat dikatan bahwa metode-metode ini akan mewujudkan
(suatu dunia yang bebas penyakit~hanya ada keterangan tersebut di artikel-artikel: Sololusi Permanen)
* The prefix “nano,” from the Greek term for dwarf, means “one billionth.”
* Kata "nano, yang berasal dari kata Yunani untuk kerdil, berarti "sepersemiliar".
* Kata "nano, yang berasal dari kata Yunani untuk kerdil, berarti "sepersemiliar".